"Dibawa dari India masuk Indonesia sekitar tahun 1970"
Jombang
HARIAN BANGSA
Tak hanya pada Bulan Ramadhan, pada bulan-bulan selain Ramadhan di berapa masjid sering dijumpai orang yang berpakaian gamis dan berkopiah haji. Ada pula yang berpakaian gamis baju panjang yang biasa dipakai orang Arab. Tak sedikit di antara mereka yang memanjangkan jenggot dan mencukur kumis. Selain itu, meraka juga membawa peralatan masak. Orang umum menyebutnya Islam Jahula. Namun mereka sendiri menyebutnya bukan Islam Jahula tetapi lebih lekat dengan Jamaah Tabligh (JT). Jamaah ini lebih mengedepankan untuk melakukan dakwah keliling dari musholla ke musholla bahkan masjid ke masjid. Jamaah Tabligh sendiri bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya, dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya.
Pengasuh pondok pesantren Midanutta'lim, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Jombang, kiai Muhammad Minhaj yang juga imam Jamaah Tabligh Jawa Timur ini menjelaskan, JT didirikan oleh bernama Syekh Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti di Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur, India. Di tempat dan negara inilah kemudian markas gerakan Jamaah Tabligh berada hingga saat ini. Syekh Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1302 H dengan nama asli Akhtar Ilayas. Dia meninggal pada 11 Rojab tahaun 1363 H dan di makamkan di New Delhi.
Jamaah Tabligh ini masuk ke Indonesia pada tahun 1970 silam melalui Jakarta. Pada waktu itu pemerintahan Indonesia dibawah kekuasaan Presiden Suharto, yang sangat membatasi segalla kegiatan dan aktivitas warganya. Terlebih lagi dengan adanya kegiatan-kegiatan dakwah semacam Jamaah Tabligh yang dibawa oleh seseoarang dari India. Dengan ketatnya pengawasan pada waktu itu, justru malah menguntungkan pada Jamaah Tabligh. "Dengan selalu diawasi ini maka Jamaah Tabligh dapat meenunjukkan misi jamaah ini sebenarnya tanpa ada kecurigaan," ujarnya.
Saking ketatnya, hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI) menurunkan salah seorang Intelejennya untuk memantau segala aktivitas Jamaah Tabligh ini di Jakarta. Namun saking seringnya mengikuti pengajian dan kegiatan agama yang digelar oleh jamaah tabligh, seorang intelejen TNI bernama abu zulfakar tertarik dengan beberapa pemahaman yang lontarkan oleh Jamaah. Hingga akhirnya Intelejen ini menjadi anggota Jamaah Tabligh pertama di Indonesia. Dan saat ini menjadi petinggi JT Indonesia.
Menurut Kiai Mad, Jamaah tabligh ini sebenarnya hanya sebutan orang untuk memudahkan mengenal. Namun sebenarnya jamaah ini tidak punya nama. Sebab, jamaah ini bukan sebuah organisasi yang ada struktur kepengurusan, mulai dari ketua hingga anggota. Selain itu, juga tidak ada Anggaran dasar/maupun anggaran rumah tangga (AD/ART). Termasuk juga, tidak adanya pendataan anggota. "Yang mengikat mereka adalah kepentingan demi tegaknya agama Islam di muka bumi, dan kami tetap berdakwah" terang kiai Mad yang ditemui dikediamannya. Meski tidak terbentuk sebagai organisasi, JT ini memiliki pengikut yang tersebar diseluruh belahan dunia.
Patokan Jamaah ini dalam mengetahui kegiatan anggotanya adalah berdasarkan mushola. Setiap musholla yang ada, diberikan seorang pemandu. Tugas pemandu adalah meningkatkan kegiatan agama di Musholla tersebut. Kemudian pemandu akan berkordinasi dengan Imam di desa setempat. Sedangkan seorang Imam membawahi tujuh orang pemandu. Imam ini akan berkordinasi dengan Imam-imam lainnya untuk lebih banyak membahas kegiatan agama di beberapa tempat itu kedalam rapat. Selama rapat, kata mantan Pengurus Cabang Nahdhotul Jombang ini, yang dibahas tidak lain tentang kondisi masyrakat disekitar musholla, bagaiman sholat jamaahnya, bagaimana sholat sunnahnya serta bagaimana adab terhadap tetangga baik muslim maupun non muslim. "Yang dibahas hanyalah bagaimana masyarakat bisa meniru sepenuhnya keteladanan nabi," katanya.
Rapat yang biasa disebut dengan musyawarah ini berlangsung beberapa kali. Menurut kiai Mad, ada Musyawarah Mingguan yang berlangsung setiap malam kamis, Musyawarha dwi mingguan, Musyawarah bulanan, Musyawarah empat bulanan, hingga musyawarah tahunan. "Yang Pasti dalam musyawarah selalu membahas tentang perkembangan dakwah masing-masing jammah tabligh, dalam musyawarah jamaah dilarang berbicara politik ataupun yang lain," katanya menjelaskan. sedangkan untuk , bulan Ramadhan ini tidak ada kegiatan khusus. Jamaah Tabligh tetap berjalan dan beribadah seperti biasanya. Termasuk berdakwah keliling untuk mengajak orang-orang kembali keajaran Rosullulloh. Dimana dakwah keliling yang diberi nama khuruj ini ada beberapa tahapan hingga seorang anggota jamaah Tablish dapat berdakwah keliling dunia.
Kemudian di pesantren ini terdapat pengajian kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab Tajriduss shahih yang merupakan penjabaran dari Kitab Hadist Bukhori. Waktunya, untuk pengajian tafsir berlangsung pagi hari mulai pukul 10 hingga 12 siang. Kemudian untuk Kitab Tajriduss shahih waktunya sore hari menjelang ba'da sholat ashar dan dilanjutkan nanti setelah sholat tarawih. "Dan pengajian ini bersifat umum jadi siapapun boleh ikut," katanya.(Bersambung) JB-1
Jombang
HARIAN BANGSA
Tak hanya pada Bulan Ramadhan, pada bulan-bulan selain Ramadhan di berapa masjid sering dijumpai orang yang berpakaian gamis dan berkopiah haji. Ada pula yang berpakaian gamis baju panjang yang biasa dipakai orang Arab. Tak sedikit di antara mereka yang memanjangkan jenggot dan mencukur kumis. Selain itu, meraka juga membawa peralatan masak. Orang umum menyebutnya Islam Jahula. Namun mereka sendiri menyebutnya bukan Islam Jahula tetapi lebih lekat dengan Jamaah Tabligh (JT). Jamaah ini lebih mengedepankan untuk melakukan dakwah keliling dari musholla ke musholla bahkan masjid ke masjid. Jamaah Tabligh sendiri bukan merupakan kelompok atau ikatan, tapi gerakan muslim untuk menjadi muslim yang menjalankan agamanya, dan hanya satu-satunya gerakan Islam yang tidak memandang asal-usul mahdzab atau aliran pengikutnya.
Pengasuh pondok pesantren Midanutta'lim, Desa Mayangan, Kecamatan Jogoroto, Jombang, kiai Muhammad Minhaj yang juga imam Jamaah Tabligh Jawa Timur ini menjelaskan, JT didirikan oleh bernama Syekh Muhammad Ilyas bin Muhammad Isma'il Al-Hanafi Ad-Diyubandi Al-Jisyti di Kandahlah, sebuah desa yang terletak di daerah Sahranfur, India. Di tempat dan negara inilah kemudian markas gerakan Jamaah Tabligh berada hingga saat ini. Syekh Muhammad Ilyas sendiri dilahirkan pada tahun 1302 H dengan nama asli Akhtar Ilayas. Dia meninggal pada 11 Rojab tahaun 1363 H dan di makamkan di New Delhi.
Jamaah Tabligh ini masuk ke Indonesia pada tahun 1970 silam melalui Jakarta. Pada waktu itu pemerintahan Indonesia dibawah kekuasaan Presiden Suharto, yang sangat membatasi segalla kegiatan dan aktivitas warganya. Terlebih lagi dengan adanya kegiatan-kegiatan dakwah semacam Jamaah Tabligh yang dibawa oleh seseoarang dari India. Dengan ketatnya pengawasan pada waktu itu, justru malah menguntungkan pada Jamaah Tabligh. "Dengan selalu diawasi ini maka Jamaah Tabligh dapat meenunjukkan misi jamaah ini sebenarnya tanpa ada kecurigaan," ujarnya.
Saking ketatnya, hingga Tentara Nasional Indonesia (TNI) menurunkan salah seorang Intelejennya untuk memantau segala aktivitas Jamaah Tabligh ini di Jakarta. Namun saking seringnya mengikuti pengajian dan kegiatan agama yang digelar oleh jamaah tabligh, seorang intelejen TNI bernama abu zulfakar tertarik dengan beberapa pemahaman yang lontarkan oleh Jamaah. Hingga akhirnya Intelejen ini menjadi anggota Jamaah Tabligh pertama di Indonesia. Dan saat ini menjadi petinggi JT Indonesia.
Menurut Kiai Mad, Jamaah tabligh ini sebenarnya hanya sebutan orang untuk memudahkan mengenal. Namun sebenarnya jamaah ini tidak punya nama. Sebab, jamaah ini bukan sebuah organisasi yang ada struktur kepengurusan, mulai dari ketua hingga anggota. Selain itu, juga tidak ada Anggaran dasar/maupun anggaran rumah tangga (AD/ART). Termasuk juga, tidak adanya pendataan anggota. "Yang mengikat mereka adalah kepentingan demi tegaknya agama Islam di muka bumi, dan kami tetap berdakwah" terang kiai Mad yang ditemui dikediamannya. Meski tidak terbentuk sebagai organisasi, JT ini memiliki pengikut yang tersebar diseluruh belahan dunia.
Patokan Jamaah ini dalam mengetahui kegiatan anggotanya adalah berdasarkan mushola. Setiap musholla yang ada, diberikan seorang pemandu. Tugas pemandu adalah meningkatkan kegiatan agama di Musholla tersebut. Kemudian pemandu akan berkordinasi dengan Imam di desa setempat. Sedangkan seorang Imam membawahi tujuh orang pemandu. Imam ini akan berkordinasi dengan Imam-imam lainnya untuk lebih banyak membahas kegiatan agama di beberapa tempat itu kedalam rapat. Selama rapat, kata mantan Pengurus Cabang Nahdhotul Jombang ini, yang dibahas tidak lain tentang kondisi masyrakat disekitar musholla, bagaiman sholat jamaahnya, bagaimana sholat sunnahnya serta bagaimana adab terhadap tetangga baik muslim maupun non muslim. "Yang dibahas hanyalah bagaimana masyarakat bisa meniru sepenuhnya keteladanan nabi," katanya.
Rapat yang biasa disebut dengan musyawarah ini berlangsung beberapa kali. Menurut kiai Mad, ada Musyawarah Mingguan yang berlangsung setiap malam kamis, Musyawarha dwi mingguan, Musyawarah bulanan, Musyawarah empat bulanan, hingga musyawarah tahunan. "Yang Pasti dalam musyawarah selalu membahas tentang perkembangan dakwah masing-masing jammah tabligh, dalam musyawarah jamaah dilarang berbicara politik ataupun yang lain," katanya menjelaskan. sedangkan untuk , bulan Ramadhan ini tidak ada kegiatan khusus. Jamaah Tabligh tetap berjalan dan beribadah seperti biasanya. Termasuk berdakwah keliling untuk mengajak orang-orang kembali keajaran Rosullulloh. Dimana dakwah keliling yang diberi nama khuruj ini ada beberapa tahapan hingga seorang anggota jamaah Tablish dapat berdakwah keliling dunia.
Kemudian di pesantren ini terdapat pengajian kitab Tafsir Ibnu Katsir dan Kitab Tajriduss shahih yang merupakan penjabaran dari Kitab Hadist Bukhori. Waktunya, untuk pengajian tafsir berlangsung pagi hari mulai pukul 10 hingga 12 siang. Kemudian untuk Kitab Tajriduss shahih waktunya sore hari menjelang ba'da sholat ashar dan dilanjutkan nanti setelah sholat tarawih. "Dan pengajian ini bersifat umum jadi siapapun boleh ikut," katanya.(Bersambung) JB-1
COMMENTS